Kamis, 03 Maret 2011

Fotografi


Fotografi (Photography) berasal dari kata Foto (Cahaya) dan Graphia (menulis/menggambar), sehingga dapat diartikan bahwa fotografi adalah suatu teknik menggambar dengan cahaya. Atas dasar tersebut, jelas bahwa cahaya sangat berperan penting dan menjadi sumber utama dalam memperoleh gambar.

KAMERA SLR :
Kamera SLR (Single Lens Reflex) atau D-SLR (Digital) merupakan kamera dengan jendela bidik (viewfinder) yang memberikan gambar sesuai dengan sudut pandang lensa melalui pantulan cermin yang terletak di belakang lensa. Pada umumnya kamera biasa memiliki tampilan dari jendela bidik yang berbeda dengan sudut pandang lensa karena jendela bidik tidak berada segaris dengan sudut pandang lensa.

Fotografi berkaitan erat dengan cahaya, maka kamera berfungsi untuk mengatur cahaya yang ditangkap image sensor (sensor gambar pada kamera digital atau film pada kamera konvensional). Untuk mengatur cahaya, terdapat 2 hal mendasar dalam kamera, yakni Shutter Speed (Kecepatan Rana) dan Aperture (Diafragma).

Shutter speed atau kecepatan rana merupakan kecepatan terbukanya jendela kamera sehingga cahaya dapat masuk ke dalam image sensor. Satuan daripada shutter speed adalah detik, dan sangat tergantung dengan keadaan cahaya saat pemotretan. Semisal cahaya terang pada siang hari, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih cepat, semisal 1/500 detik. Sedangkan untuk malam hari yang cahayanya lebih sedikit, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih lama, semisal 1/5 detik. Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa foto pada malam hari cenderung buram, bahwa shutter speed yang lebih lambat memungkinkan pergerakan kamera akibat getaran tangan menjadikan cahaya bergeser sehingga foto menjadi buram / blur.

FREEZE :
Kali ini akan dijelaskan tentang freeze, dimana sangat berkaitan erat dengan shutter speed. Foto freeze bertujuan untuk mengabadikan suatu moment dengan gerakan cepat sehingga dapat tertangkap oleh kamera sebagai gambar diam, seperti foto tetesan air, ledakan, atau foto ketika orang sedang melompat dan lain sebagainya. Yang paling utama dalam mendapatkan foto freeze adalah mengatur shutter speed secepat mungkin (misal 1/500 detik, 1/1000 detik, hingga 1/8000 detik). Karena tuntutan shutter speed yang cepat, maka tentunya cahaya yang dibutuhkan sangat banyak, maka dari itu biasanya foto freeze amatir lebih banyak dilakukan di ruang terbuka pada siang hari dimana cahaya matahari bersinar terang. Bukan tidak mungkin untuk memperoleh foto freeze pada malam hari atau cahaya yang minim, namun peralatan pendukung mutlak diperlukan seperti flash atau bahkan lampu studio dengan kecepatan singkronisasi yang tinggi pula.

Berikut contoh foto freeze:


MOVEMENT :
Bertentangan dengan foto freeze, foto movement bertujuan memperlihatkan pergerakan objek dengan shutter speed yang rendah, sehingga pergerakan objek dapat tampak pada hasil foto. Shutter speed yang digunakan cenderung rendah agar pergerakan objek dapat terekam (misal 1/5 detik, 1 detik, dst), namun yang patut diperhatikan adalah kamera harus tetap dalam posisi statis agar background daripada objek tetap fokus walaupun shutter speed lambat.

Berikut contoh foto movement:



PANNING:
Mirip dengan metode foto movement, namun dalam foto panning gerakan objek lebih ditampilkan melalui background yang bergerak. Prinsip dasar foto panning sama dengan foto movement, hanya saja pada saat pemotretan, kamera ikut bergerak mengimbangi gerakan objek, sehingga objek tetap fokus namun background yang dihasilkan bergerak.

Contoh foto panning:






BULB :
Foto bulb dapat diperoleh melalui mode manual dengan mengatur shutter speed pada setting paling lambat (BULB), dimana shutter akan terus terbuka selama tombol ditekan dan akan menutup kembali pada saat tombol dilepas. Yang patut diperhatikan pada foto bulb adalah posisi kamera yang mutlak harus statis, maka gunakanlah tripod untuk menghasilkan foto bulb.

Contoh foto bulb pada lalu lintas kota malam hari:












Untuk kamera DSLR atau prosumer semi pro, bisa dengan mengatur exposure level. Naikan exposure level agar objek tidak menjadi efek siluet (backlight), namun background akan menjadi over exposure. Namun apabila ingin background tetap jelas bisa disisasati dengan mode manual, gunakan setting shutter speed dan aperture untuk normal exposure tanpa flash, namun pada saat pemotretan aktifkan pop up flash (built in flash) agar flash dapat melakukan fill in pada objek.


Semoga uraian sederhana tentang teknik fotografi diatas dapat menjelaskan...

Selasa, 28 Desember 2010

Jelajah

Humh...
Libur pun tiba, bingung pun melanda (mau kemana dan harus berbuat apa).
Akhirnya keliling-keliling deh (gak jelas tentunya).
Tentunya dengan pacarku yang selalu menemani perjalananku he heee.....!!!!
Bersamanya ku habiskan waktu, tiap jengkal tempat pun terabadikan bersamanya.
Hingga bisa ku ceritakan disini hasil berkelana bersama pacarku "Cannon DSLR 1000D" (he he heee).




Hasil jepretan bersama Cannon DSLR EOS 1000 D, awalnya memang meragukan kemampuan SLR ini.
Setelah Hunting bersamanya kata ragu itu dijawab dengan hasil yang menurutku memuaskan.
Masih terlihat sederhana memang, mudah-mudahan tetap berkenan.
Silahkan anda menilainya sendiri...











About Me

Terlahir pada tanggal 26 Maret 1988, bertepatan pula dengan lounching pertama nama "Abdu Malik Setyawan" yang dipersembahkan spesial pada saya. Mungkin karna nama tersebut termasuk panjang dan sulit untuk menentukan kata mana yang akan menjadi nama panggilan saya, dilounching kembali lah nama kecil saya yang berjudul "Wawan". Cukup familiar memang (bahkan ada yang bilang pasaran "dasar") tapi cukup membuat saya bangga dengan sebutan itu (jangan dikasih gelar yang macem" lagi).
Tapi ada sabagian orang memanggil saya dengan sebutan "tuha" (yang nulis Erfiana, ckckckckc).

Berangkat tuk menggapai cita-cita, dukungan orangtua mengantarkan saya menuju "TK. Gelatik" hingga dapat bernaung pada atap "SDN Telaga Biru 4" tak lupa diimbangi dengan masuknya saya ke "SMKN 5 (listrik)", semuanya terletak di Ibukota Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Seperti rantai yang terhubung harmonis untuk mengantarkan saya berangkat ke Yogyakarta untuk duduk manis di bangku kuliah "Universitas Negeri Yogyakarta (elektro)". Cukup mengikuti prosedur yang ada semua t'lah dijalani dengan rapi, hingga saat saya menginjakkan kaki pada semester 5 di "UNY" terjadi miss yang membuat saya memilih tuk kembali terdampar pada kota kelahiran saya (sangat tidak bijak memang). Hingga ikut bernaung dalam naungan "Politeknik Negeri Banjarmasin" tepat dalam genggaman jurusan "Teknik Geodesi".

Suka duka menjadi rangkuman indah dalam perjalan hidup saya, membuat saya cukup tegar tuk melalui rintangan yang menatap didepan.